Wednesday, April 11, 2007

RUHKU BISA BERJALAN

Terkadang ruhku bisa berjalan-jalan tanpa memakai sandal dan baju tebal yang sering menemaniku berpergian di malam hari. Saat ini saja ruhku sudah menembus tembok kamar lalu pintu rumah kemudian ia berjalan melewati jalan-jalan protokol, melewati pasar lalu sampai di depan rumah yang mengerikan bagiku.

Rumah itu tersusun dari tiga puluh tiga tumpuk batuan kubus berwarna hitam yang tingginya sekitar tiga belas meter. Rumah itu tidak berpagar, tapi ia dikelilingi oleh pasi-pasir halus yang akan menghisapmu ke dasar perutnya jika kita melangkah di atasnya. Hanya ada jalan setapak untuk melewati pasir itu, begitu kecil untuk melangkah hingga kaki kita harus diangkat perlahan dan kemudian kaki-kaki itu akan berjejer searah ke depan. Aku tidak berani berpikir macam-macam, konsentrasi untuk melihat jalan tipis di malam seperti ini amatlah vital.

Hampir saja aku kehilangan konsentrasi waktu lamat-lamat ada suara lembut yang kukenal dahulu mencoba merayuku kembali, tapi aku berhasil mengusirnya,

“ hus, hus, pergi sana, cari saja makanan di tempat lain” kataku sedikit menghardik.

Memang aku mengenal siapa pemilik suara itu, ia memang bagian dari masa silam yang sempat menempelkan jemarinya dihati ini sebelum ia meremas dan memecahkannya. Untung saja aku masih punya perban dan sedikit obat merah yang memang pedih untuk menyembuhkan luka yang tipis namun dalam ini. Setelah sembuh luka itu baru aku sadar dari hipnotis bahwa ia hanya ingin menggerogoti aku perlahan dari dalam, ya, dari hatiku lalu kemudian ia akan menghisap usus besarku, usus kecilku, lambungku, paru-paru, otakku, baru kemudian ia menikmati tebalnya dagingku dan hanya tulangku yang pasti ia sisakan untuk cacing dan belatung.

Tapi sudahlah, aku harus berkonsentrasi lagi agar aku bisa melewati jalan setapak ini. kulangkahkan lagi kaki kananku ke depan lalu kemudian kaki kiriku, tapi aku merasa kalau aku menginjak sesuatu yang rapuh, “krak” sesuatu yang kuinjak tanpa sengaja itu patah menjadi beberapa bagian. Aku penasaran, benda apa itu yang ada di tengah jalan seperti ini dan di tempat yang mengerikan seperti ini. Aku mencoba memincingkan mataku yang memang sudah minus ini.

Aku tersentak “ tidak mungkin, tidak mungkin ini, aku tidak percaya”.

Jantungku berdegup kencang, nafasku memburu dan mataku melotot sebisanya. Aku masih terdiam memandang sesuatu pada pangkal benda rapuh yang tadi aku injak. Ada wajah di sana, wajah itu sudah berkerut, garis-garis keriput menonjol di sana, tulang-tulang di wajahnya lebih menonjol ketimbang senyum yang coba ia kembangkan menyapaku.

“ apa kabarmu” tanyanya gemetar

aku masih terdiam, jantungku masih berdegup kencang, nafasku masih memburu dan mataku masih melotot sebisanya.

“ kau sudah berubah, banyak hal yang tidak kulihat dari kau yang dulu dan banyak hal yang aku yakin masih kau miliki’ katanya sambil menatap lengan kananku.

Aku mencoba belajar mengeja lagi, membiarkan darah di tubuhku mengalir melewati bilik dan serambi dengan tertib, mengatur nafas supaya bisa antri dengan sabar dan menegur mataku supaya tidak berlebihan dalam bersikap.

“aku baik-baik saja, kau juga begitu banyak berubah” jawabku singkat.

Sungguh bodoh, satu dekade sudah tidak bertemu dan kini yang keluar dari mulutku hanya ucapan seperti itu, padahal satu dekade yang lalu kau begitu ingin memuntahkan bait demi bait hasratmu kepadanya. Aku masih ingat saat itu aku mendadak sakit, padahal aku termasuk anak yang sehat, jarang sakit, kecuali oleh penyakit yang disebabkan oleh angin, seperti masuk angin dan angin duduk.

Saat itu ada angin lain yang menerobos tubuhku dan masuk ke dalam hatiku, aku bingung saat itu sakit macam apa ini, membuat aku limbung, pandanganku menjadi tunggal, sering mengigau dan sering lemas. Tenyata aku tahu kini aku masuk angin saat sedang bertemu dan mencoba bicara berdua dengannya, aku sakit saat angin lembut dari bibirnya menerpa wajahku dan menciptakan rindu di sana.

Kenapa harus kuingat paruh waktu yang itu, aku tak mau penyakit itu kembali lagi menjangkiti ketika ia sudah hampir musnah dari dataran inginku, ketika namanya hampir luluh terbawa riak yang melewati kerikil dan kuarsa disepanjang aliran hidupku. Aku harus yakin ini hanya godaan sama seperti ketika iblis menggoda Hawa dan Adam untuk mengenal dusta dan dosa. Tapi sungguh aku tak jua kuasa untuk meraih sedikit ingin tahuku tentang itu, aku ingin meraih buah yang belum sempat aku lihat sebelumnya dari dia, aku hanya ingin melihat adakah gores namaku di kulit cintanya, hanya itu. Lalu dengan gentar aku memohon agar ia memperlihatkannya kepadaku.

Tapi ia bisu dan matanya pun tak berkata, hanya ada dingin yang mengurung tubuhnya. Kutawarkan ia selimut yang dahulu kusimpan dari balik kenanganku, masih saja terajut dengan rapi dan masih ada inisial namamu di bagian pinggirnya. Nama itu tidak pernah tersentuh oleh yang lain meskipun aku pernah meminjamkannya kepada mereka yang melintas dihadapan, tapi selalu aku ragu karena melihat namamu ketika mereka memakai selimut itu. Karena itu kemudian harapku menunggu agar selimut ini melekat kepada pemilik nama ini.

Kau semakin membeku, wajahmu membiru, bunga es mulai menutup tubuhmu dan kaku mulai menjadikanmu tak sanggup untuk kupeluk. Bukan karena aku tak peduli, tapi karena kau juga menciptakan badai dari dinginnya hatimu dan badai itu menyerangku, menghempaskan tubuhku saat hendak melangkah padamu. Aku tak pernah menduga itu sebelumnya. Maka, gemeretak gigi menahan dingin bercampur dengan panas luka hati aku meninggalkanmu tanpa harus menoleh kepada batu yang kau pahat dengan angkuhmu.

Tak seharusnya kau meminta masa yang datang sebagai hadiah yang harus kuberikan di hari itu. Aku belum punya lembaran dan kepingan untuk memberikan kau masa datang yang harus kubungkuskan di dalam parsel dan disertai dengan sepuluh atau dua puluh bingkisan lain yang katanya merupakan bukti inginku padamu. Kau tetap keras memintanya padaku. Baiklah, akan kuberikan kau candi di atas remuknya permukaan sayangku yang tak pernah sempurna hingga ayam jantan membangunkan dari lelap dan yang tersisa dari harapku hanyalah menjadikanmu sebagai arca dari candi yang akan kubiarkan terkubur dalam-dalam.

Ku dapatkan kesadaran setelah beberapa kali aku mencoba menggapainya. Kesadaran yang datang bersama dengan pijar cahaya yang samar kulihat di ujung setapak yang masih kulalui ini. Pijar itu sedikit demi sedikit berkelap kelip seperti saat kulihat beberapa bintang yang masih mencoba memberikan arti kepada sesamaku tentang berbagai arti. Semakin dekat ia berpendar-pendar seperti cahaya suar yang sendiri dan dengan sederhananya memberi inspirasi kepada sebuah awal dan akhir yang kembali bertemu dan menjalin waktu.

Aku hampir lelah, ternyata setapak ini masih panjang dan aku masih mengejar cahaya yang ada didepan. Ku tak kuasa menerka berapa lama lagi mencapai ujung dan merasakan lagi hangat atau panasnya terik mentari sehabis fajar. Saat ini ruhku masih saja berjalan melewati rumah demi rumah yang menyeramkan bagiku, rumah yang semakin jauh meninggalkan ragaku yang masih telanjang itu.


BDL, Januari-Juni 2004

No comments: