Wednesday, April 11, 2007

Menunggumu Lebih Lama Dari Satu jam

Hampir satu jam aku menunggu disini tapi belum juga kau kunjung datang. Entah mengapa aku begitu betah menungguimu padahal aku dikenal sebagai orang yang paling benci menunggu. Aku dilahirkan di dalam keluarga yang sangat disiplin, ibuku adalah anak seorang mantan tentara karena itulah maka watak disiplin seperti tepat waktu, tepat tujuan dan sebagainya itu diturunkan juga kepadaku melalui ajaran-ajarannya hingga aku besar. Akhirnya aku dikenal sebagai orang yang selalu tepat waktu, kalau aku berjanji akan datang jam 8 maka tepat jam delapan itu aku pasti sudah hadir. Kebiasaan-kebiasaan itu yang terkadang membuatku sebal kalau ada orang yang berjanji pada waktu tertentu namun dia terlambat datang.

Biasanya aku memberi waktu tolerir selama 15 menit untuk menunggu orang itu dan kalau waktu itu lewat maka aku akan pergi meninggalkannya apapun resikonya. Karena sikapku itu aku pernah tidak lagi diikutsertakan di dalam proyeknya temanku dengan alasan aku bukan tipe orang yang bisa bersabar. Aku semakin bingung mereka bilang begitu. Suatu kali juga aku pernah bertengkar hebat dengan pacarku yang dahulu sampai kami harus berpisah hanya karena aku diangap orang yang tidak perhatian karena rela meninggalkannya sendiri di tempat yang kami janjikan. Aku juga bingung dengan alasannya itu.

Tapi kali ini entah kenapa aku tidak gelisah karena harus sendiri menunggumu datang. Di tepi jalan ini aku hanya bisa melihat mobil-mobil lalu lalang dihadapan, melihat orang hilir mudik, ada yang sendiri berjalan tergesa-gesa, mungkin ia juga punya janji dengan seseorang yang disayanginya sama seperti aku. Ada juga sepasang pria dan wanita yang kupastikan sebagai kekasih sedang berjalan sambil bercanda, tertawa mesra. Dongkol hati ini melihat mereka itu, aku mulai tak sabar menantikanmu datang.

Pemandangan-pemandangan itu membuatku tersenyum-senyum membayangkanmu yang nanti akan datang tergesa-gesa sambil berkata,

“ Maaf ya sayang, aku harus mandi dan dandan dulu tadi”

Wanita selalu begitu, dandan. Entah kenapa, apa mereka kurang percaya diri dengan rupa mereka sendiri sehingga mereka harus memolesnya supaya dikatakan cantik. Padahal aku tahu bagaimana rupanya kalau sedang tidak memakai dandanannya itu, dia sudah dikarunia raut yang menawan buatku. Setelah itu dia pasti akan berkata lagi,

“ Kamu lama ya menunggunya, maaf ya”

Kata maaf lagi, sepertinya senjata yang paling digjaya dari wanita adalah kata itu, apalagi kalau ditambah dengan kata “sayang” atau paling tidak ada kata “kamu”, kalau sudah begitu mana tega aku kalau tidak tersenyum sambil berkata,

“ Ah nggak kok, aku juga baru datang, belum lima belas menit”

Berbohong lagi aku, lama kelamaan dosaku yang tercipta dari berbohong ini mungkin sudah menjadi bukit. Tapi aku jelas punya alasan untuk itu, dan mungkin semua orang juga rela berdosa-dosa dalam hal ini, aku jadi bingung dibuatnya.

Kata orang wanita itu peka, mereka bisa merasakan emosi yang mungkin muncul dari seseorang hanya dengan melihat matanya. Maka itu temanku berkata agar mereka tidak kecewa kitalah yang harus mengalah. Tapi aku jadi bingung lagi. Apa percintaan itu seperti perang harus ada yang kalah dan menang. Kalau begitu apa yang didapat dari pertempuran yang mungkin melelahkan dan menjatuhkan korban itu. Penguasaan. Aku tidak yakin dengan yang namanya memiliki atau dimiliki itu. Karena ternyata pertempuran belum berakhir ketika kita merasa memiliki, masih ada yang namanya penghianatan. Ah, semakin jauh pikiranku menjelajah sambil menunggumu.

Selama lima menit aku tersenyum-senyum sendiri di tepi jalan ini karena menerka apa yang akan terjadi nanti, sampai aku tak sadar kalau orang-orang memperhatikan. Jadi malu aku, pasti mereka mengira aku orang yang aneh, nggak waras atau gila. Kalau sudah begini mungkin benar kalau cinta itu memang gila.

“ ah, kenapa pula aku jadi sok romantis seperti ini, pengalaman yang dulu hampir menyakitkanku sampai aku enggan bermain-main lagi dengan cinta yang gombal itu. Ah, sudahlah jangan di dramatisir begini”, pikirku dalam lamunanku.

Hei, apa itu. Aku melihat ada kobaran api dan ada sepeda motor dan gerobak bakpao yang jatuh terguling lalu minyak dari gerobak bakpao itu tumpah dan api dari penggorenangannya menyulut api. Sekitar setengah meter api itu membubung, untung saja seseorang menarik sepeda motor itu ke tepi jalan, kalau tidak bisa saja api itu menyambar bensin dari motor itu dan selanjutnya mungkin lebih parah. Aku mendatanginya mereka ternyata sedang bertengkar tentang siapa yang salah, siapa yang keliru waktu berbelok di tikungan, siapa yang tidak menginjak rem waktu hampir bertabrakan dan sebagainyalah. Mereka berdebat kalau mereka sedang tergesa, pedagang bakpao harus mengantar uang sehingga mereka bisa makan besok hari, sementara pengendara motor harus mengantar istrinya ke dokter.

Kalau sudah begitu aku jadi ingat kamu. Entah disisi yang mana kita mungkin akan berdebat tentang rasa sayang kita itu. Kita pernah bertengkar tentang siapa yang salah, siapa yang lebih salah dan siapa yang salah karena menyalahkan tapi kita belum pernah bertengkar tentang untuk apa kita saling bertengkar, mengapa kita tetap bersama meski terkadang bertengkar. Aku tahu kita tak mesti mengatakan jawabnya, ada tangan-tangan halus yang akan secepatnya menepikan sayang kita disaat ada api yang membubung di dalam hati kita.

Aku tersenyum lagi sambil menunggumu. Waktu pun semakin bertambah sekarang sudah satu jam 30 menit. Walaupun sebenarnya aku masih betah menunggumu tapi karena orang-orang semakin keheranan memandangiku sebaiknya aku pindah ke tempat lain untuk menunggu kau datang. Bila Yang Kuasa masih mengijinkan, yakinlah aku akan tetap menunggumu sampai kau datang tergesa-gesa kepadaku. Ah Sophia, ternyata menunggumu lebih lama dari satu jam.


Bandar Lampung, 13062004

No comments: