Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, April 3, 2008

Kupu-Kupu Matahari (2)

Kupu-kupu memang ditakdirkan untuk lahir dari kepompong yang lembut, karena dengan begitu dia menjadi cantik. Sebagai sebuah kelembutan yang cantik, kepompong menjadi wadah penciptaan yang luar biasa. Di dalam itu sesosok makluk dipasangkan sayap lembut agar bisa rasakan dunia yang megah ini, ia pun di lukiskan warna yang indah supaya menjadi makluk yang kedatangannya selalu menghibur hati. Bersama dengan datangnya fajar, mahluk yang indah itu berkelepak di antara dedaunan dan embun pagi. Ia tersenyum. Dengan riang dijelajahinya belantara yang memikat dirinya. Di perjalanan itu satu persatu ditemuinya kenyataan tentang belantara itu sebenarnya. Saat ia bertemu kantung semar, diketahuinya bahwa di balik keunikan yang tampak itu ternyata menyimpan bahaya. Saat ia bertemu mawar, ia mengerti jika pesona itu terkadang berbahaya. Saat berjumpa melati, ia pun sadar bahwa kesederhanaan itu lebih membawa kedamaian. Kupu-kupu tersenyum dan kembali terbang.

Aku sadar kini mengapa kupu-kupu yang datang di pagi hari itu tidak nampak lagi. Makhluk yang kunamai kupu-kupu matahari itu masih ingin terbang untuk mencari kesimpulan-kesimpulan lain dalam perjalanannya. Kupu-kupu itu ingin mengerti kenapa ia menajdi kupu-kupu?, berapa lama ia bisa tetap terbang jelajahi tanah bumi? Dan ingin tahu bisakah ia terbang ke arah matahari?. Matahari selalu mempesonanya semenjak ia dilahirkan dari kepompong. Matahari adalah ibu yang dilihatnya pertama kali saat matanya dibuka sewaktu kelahirannya. “ aku ingin dipeluk oleh matahari, merasakan cahaya nya merasuki hidupku selalu”, begitu mungkin ucapan yang bisa dia ungkapkan.

Melihat besar inginnya dan melihat diriku yang hanya bisa ada disini, aku menghela nafas panjang. Pikiranku berdialog, “ biarkan dia pergi, aku akan merindukannya di setiap pagi, namun tidakkah terlalu egois jika kukurung dia untuk tetap di tamanku, padahal niatnya kepada matahari adalah mimpinya”. Sempat terbersit khawatirku tentang angin yang akan menghempasnya saat terbang menuju matahari, atau burung-burung migrasi yang menyambar tubuh indahnya, atau juga api yang meledak dari matahari yang akhirnya membakar dirinya. Kekhawatiranku bisa memenjarakannya.

Di suatu saat yang lain aku berpikir, dengan berikan waktu untuk temukan kesimpulan-kesimpulan itu, kelak dia akan menjadi makhluk yang lebih kuat, makluk yang bisa lebih bahagia dengan taman yang sederhana ini, dimana bunga, embun, gemericik air dan desir lembut angin menjadikan syukur selalu muncul sebagai kesimpulan akhir selama masih diberi hidup oleh-Nya. Ya, kupu-kupuku, terbanglah untuk sesaat, temukan dirimu dan jika sudi untuk kembali aku akan menunggumu, ditaman ini. Aku akan menanti hadirmu yang tersenyum menyapa saat jendela kamarku terbuka, aku akan menanti kelepak sayap cantikmu yang berpindah dari satu bungan ke bunga yang lain, aku pun akan bersyukur saat kau hinggap di jemariku dan rasakan kau berbicara kepadaku, lalu kita berdiskusi seharian, tentang kantung semar, mawar, melati, dan tentang matahari yang sebenarnya. Matahari yang ternyata ada di dalam diri; sebuah harapan.


Bandar Lampung, 03/04/08

Dari sebuah perjalanan
Bandung-Bandar Lampung

Saturday, January 12, 2008

Langit Malam Tahun Baru (sebuah cerpen)

31 Desember 2007, jam 16: 35 WIB aku tiba di rumah setelah menjalani hari dengan rutinitas kerja yang dilalui seperti hari sebelumnya. Memang tidak ada jadwal yang penting hari ini, hanya meladeni beberapa mahasiswa yang sedang menjalani pembimbingan skripsi. Ada yang berbeda antara mahasiswa dahulu dengan mahasiswa sekarang, kalau mahasiswa dulu begitu sakral melihat skripsi, melihatnya seperti seorang prajurit terhadap medan perang yang harus siap dengan semua kemungkinan atau melihatnya seperti seorang petualang yang menemukan peta harta karun sehingga semua energi tercurah di sana. Tidak heran jika kami dahulu rela berjalan-jalan ke kota seberang untuk mencari inspirasi yang baik, membeli buku langka yang bisa menambah wawasan atau berkutat di perpustakaan universitas lain yang lebih lengkap. Mahasiswa terdahulu melihat skripsi sebagai monument intelektual yang harus dibuat seindah dan sesempurna mungkin. Kini aku sedang berhadapan dengan mahasiswa yang merengek-rengek supaya bisa seminar sebelum bulan maret. Ada juga yang merengek-rengek karena buku yang aku minta untuk dibaca tidak ditemukan di perpustakaan fakultas dan universitas. Huh, apa pula yang ada di pikiran anak manusia cerdas itu. Mereka anggap apa skripsi ini. Apakah sekedar kumpulan kertas sampah?, sampah yang berasal dari pikirannya sendiri. Jangan-jangan mereka juga menganggap kampus ini kubangan sampah dan aku juga dianggap sampah. Ah, sudahlah. Anak manusia seperti ini yang memang harus diajarkan tentang penghargaan, kerja keras dan tanggung jawab di dunia. Aku tak sanggup membayangkan kalau setelah lulus nanti mereka hanya menjadi sarjana-sarjana sampah. Sudah terlalu banyak sampah di bumi ini.

Kalau sudah dirumah aku lepaskan semua cerita-cerita unik yang sudah biasa itu, biarkan saja menjadi salah satu bagian perjalanan hidup. Menjadi salah satu bagian di dalam buku tahun yang segera berganti ini. Aku tidak punya rencana apapun di malam tahun baru ini. Hanya ritual kecil yang dijalankan oleh keluarga. Berdoa bersama di detik-detik awal tahun yang baru, sambil menanam harapan yang lebih baik di esok hari. Setelah itu aku akan tidur karena ada rencana besar yang mau aku datangi, aku akan keluar kota mengunjungi cahaya yang muncul di ujung tahun kemarin. Cahaya yang kembali menghangatkan jiwaku yang selama ini dingin. Nur, tunggulah aku esok hari.

Malam sudah seperempat, masih bercengkerama bercerita bersama keluarga. Di temani acara televisi yang diantaranya menayangkan sajian live perayaan tahun baru. Ah, semua acara sudah tampak sama di mataku. Tiba-tiba pintuku diketuk. Pintu pun kubuka.

“ pak, ada warga yang meninggal”, pak mardi tetanggaku berkata dengan tenang.

“ siapa?” tanyaku menggali informasi.

“ si wawan, anak yang beda itu”, pak hasan menjawab dengan tegas.

Segera setelah berpamitan sebentar dengan keluarga di rumah, aku segera berjalan bertiga menuju rumah duka. Aku sudah tahu kondisi keluarga si wawan yang rumahnya tepat di belakang rumahku. Tipikal rumah yang sering muncul di acara televisi, rumah yang mengundang air mata, mengundang simpati dan perlu mendapat uluran tangan dari manusia yang lebih beruntung seperti kita. Wawan adalah seorang anak yang berbeda. Aku masih ingat seorang psikolog di televisi pernah mengatakan bahwa anak seperti ia adalah anak yang asyik dengan dunianya sendiri. Entah seperti apa dunia yang ia buat sendiri itu. Apakah lebih berwarna dari dunia kita atau hanya dunia hitam putih?. Entahlah. Aku juga masih ingat penjelasan psikolog itu yang berujar kalau anak dengan kondisi seperti itu perlu mendapatkan perhatian yang khusus dan ditanggapi dengan sabar. Cara-caranya dilakukan melalui beberapa jenis terapi yang merangsang kemampuan si anak untuk lebih terarah dalam berinteraksi dengan orang lain. Tapi aku tidak berani membayangkan itu dilakukan oleh keluarga si wawan. Aku takut menjadi manusia yang tenggelam hanya bisa berwacana tapi tidak memberikan solusi yang bisa dilakukan oleh keluarga ini kepada anaknya itu. Aku tak tahu apakah askeskin bisa dipakai untuk masalah seperti ini. Aku takut kalau usul-usulku justru akan menyesatkan mereka.

Aku memang tidak banyak mengenal sang almarhum. Aku hanya tahu kalau di belakang rumahku itu ada sebuah keluarga yang memiliki seorang anak yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Ya, wawan tadi itu. Hanya itu yang kutahu.

Menjelang tengah malam tiba-tiba pikiranku berkelabat-kelebat bersamaan dengan kembang api yang mulai meluncur setinggi mungkin ke angkasa lalu meledak dengan bunga api yang bertebaran sesaat dengan warna yang beragam, sebelum kemudian menghilang tanpa jejak. Hidup manusia itu memang seperti kembang api. Yang bisa kita lakukan hanya mencoba setinggi mungkin meraih titik-titik pencapaian hidup, memberi bunyi dan warna yang beragam sebelum kemudian meledak dan menghilang di telan kefanaan.

Aku tengadahkan kepala kelangit, mengagumi kembang api. Tapi ternyata tidak hanya itu, di langit malam tahun baru ini aku melihat wawan berlarian di antara bunga-bunga api yang bertebaran, dia tertawa-tawa ketika ada kembang api yang meletup lalu hilang dan disusul oleh letupan kembang api yang lain, begitu terus bergantian selama beberapa menit. Bocah itu sedang melihat dunianya sendiri, bermain dalam pandangannya sendiri. Dia sepertinya ingin memegang erat setiap bunga yang muncul dari letupan kembang api itu. Mungkin hendak dia kumpulkan menjadi sebuah rangkaian bunga bercahaya. Namun setiap ia hendak memegang erat bunga yang bercahaya itu, tiba-tiba setiap bunga itu hilang. Aku melihat raut wajahnya yang mulai lelah berlarian mengejar setiap bunga yang akhirnya tidak bisa ia genggam. Perlahan kulihat matanya mulai basah. Setelah beberapa menit semua bunga itu tidak lagi muncul di langit malam tahun baru ini. Semuanya kembali hitam. Wawan yang kelelahan duduk dengan wajah yang kecewa, matanya menatap seolah berbicara. Tapi aku tidak bisa mendengarnya.

Rumah ini sudah mulai ramai dikunjungi oleh para tetangga. Ternyata masih ada yang memilih ke rumah duka ketimbang di jalanan atau alun-alun kota menikmati pergantian tahun ini dengan tawa dan keramaian. Memang kebanyakan dari mereka yang datang ke rumah ini adalah bapak-bapak yang sudah berumur dan menganggap lebih nyaman berada di rumah saja meski banyak orang bersuka cita. Toh, hari-hari selalu berganti dengan cara yang tidak berbeda, sesudah 24 jam maka hari yang baru pun mulai, begitu seterusnya. Beberapa diantara pengunjung itu memilih berada di dalam rumah, sisanya berada di luar rumah, terdengar ayat-ayat suci berasal dari dalam rumah. Aku memilih di luar rumah, selain karena ruang di dalam itu sudah cukup padat, aku juga ingin menikmati melihat langit malam tahun baru ini. Aku masih menunggu apa yang dilakukan oleh wawan yang masih terduduk di sana. Seolah menunggu. Menunggu kembang apikah?. Aku jadi ingin bertanya kepadanya.

“ apa yang kamu tunggu wan?,” aku bertanya lembut kepadanya.

Wawan tidak menjawab. Aku tahu kalau anak seperti dia bisa saja merespon pertanyaanku dengan cara yang berbeda. Aku menunggu reaksinya. Beberapa lama ia tetap terduduk, wajahnya tertunduk dan tidak melakukan apapun. Aku bertanya kembali.

“wawan, apa yang kamu tunggu?,” tanyaku dengan nada suara yang tetap lembut.

Kali ini wawan menoleh, ia tersenyum, lalu ia menunduk kembali. Namun kali ini tangannya meraih sebuah batang kayu dan perlahan ia mulai menggores-gores langit malam dengan ranting kayu itu. Ia menggambar sesuatu. Aku sering mendengar kalau anak itu biasanya senang berdialog dengan gambar yang mereka buat sendiri. Dia terkadang menggambar emosi yang dialaminya setelah dicurangi bermain oleh teman sebayanya, menggambar ibunya sebagi peri yang cantik setelah diberikan kue yang lezat kiriman tetangga atau menggambar apa saja yang menarik dalam sudut pandangnya. Aku berpikir, mungkin wawan ingin menjawab pertanyaanku melalui gambar. Aku menunggu ia menyelesaikan goresan-goresannya di langit malam itu.

Malampun semakin merayap. Aku berdiri sebentar dari posisi duduk menatap langit ini. Sekedar melemaskan otot leher yang mulai tidak nyaman karena menengadah sedari tadi. Aku melihat ayahnya wawan yang beberapa menit lalu keluar dari dalam rumahnya dan bergabung bersama kami di luar sini. Ia mengucapkan terima kasih sudah datang di malam ini, lalu ia membuka cerita tentang wawan.

“wawan itu anak yang penyendiri,” ujarnya.

Sebuah pernyataan yang nampaknya sudah diketahui oleh semua tetangganya.

“kalau bermain dengan temannya ia sering di curangi dan di hina, makanya ia lebih senang berada di rumahnya, biasanya ia menggambar, banyak sekali gambar-gambar dengan pensil atau crayon yang dibuatnya,” ujarnya terkenang.

Seperti yang sudah aku duga tadi. Wawan memang memilih menuangkan perasaan dan pikirannya melalui gambar. Ia tidak ingin perasaan dan pikirannya hanya jadi sampah.

“ gambar apa saja pak yang biasanya dibuat wawan,” tanyaku yang menyeruak di antara suasana dingin ini.

“ banyak pak, buku gambarnya saja ada banyak, semuanya berisi gambar-gambar dia,” terang ayahnya wawan.

“mau lihat gambar-gambarnya?”, lanjutnya bertanya.

Tanpa menunggu jawabanku ayahnya wawan yang menurut perkiraanku sudah berumur sekitar 50 tahunan itu perlahan masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa dua buah buku gambar ukuran sedang.

“ ini pak, dua buku gambarnya yang terakhir sering ia coret-coret”, ucapnya sambil tersenyum, ada sedikit kebanggaan yang muncul dari senyum kecil itu.

Perlahan kubuka-buka buku itu. Seperti yang sudah ku duga, gambar-gambarnya berisi ekspresi perasaannya, ada juga yang berisi keinginan-keinginannya. Misalnya ada goresan pensil yang menggambarkan sosok lelaki memakai baju putih, berkalung stetoskop dan ada lambang palang merah di latar belakangnya. Aku tersenyum, wawan mungkin bercita-cita menjadi dokter seperti anak-anak lainnya. Di gambar yang lain aku melihat goresan yang menggambarkan sosok lelaki dengan seragam mirip polisi dan menggenggam pistol. Aku tersenyum.

“ ah, anak-anak terkadang punya banyak cita-cita”, aku berkata di dalam hati.

Sambil membuka halaman demi halaman aku menikmati interpretasiku terhadap setiap goresan yang dibuat oleh anak yang tidak biasa itu. Terkadang aku tersenyum, bahkan ingin tertawa meski harus kutahan, karena situasinya jadi tidak etis untuk tertawa. Selanjutnya aku membuka halaman terakhir dari buku gambar yang kedua ini. Aku terdiam, tidak ada senyum kali ini. Mataku masih menatap menelusuri setiap sosok gores yang tergambar itu. Rasanya nafasku tertahan di tenggorokan.

Di gambar itu aku melihat gambaran sesosok anak kecil dengan pakaian panjang seperti jubah. Sementara itu ada goresan tajam di latar belakang sosok itu, seperti sepasang sayap. Sosok anak kecil itu seperti sedang berada di langit malam, karena ada beberapa gambar bintang yang bertaburan. Namun ada gambar lain di sana yang berbeda dari bintang. Gambarnya seperti bunga, hanya saja bunga-bunga itu digoreskan dengan garis-garis tajam, seolah ingin memberi kesan bercahaya layaknya bintang. Jangan-jangan ini adalah kembang api. Tiba-tiba aku jadi teringat wawan yang tadi sedang menggambar di langit malam. Dengan spontan aku menoleh ke langit.

Di langit malam itu aku melihat wawan sedang dikelilingi bunga bercahaya yang ia gambar sendiri. Tenyata karena ia tidak bisa mendapatkan kembang api untuk menjadi bunga bercahayanya maka ia menggambarnya sendiri. Wawan nampak gembira, ia tertawa-tawa kecil dikelilingi oleh bintang dan bunga bercahayanya. Aku pun perlahan melihat sepasang sayap berwarna putih mulai merekah di punggungnya, menjadikannya sosok yang anggun. Masih tertegun, aku kembali melihat gambar ditanganku. Aku tersenyum. Langit malam tahun baru ini jadi terasa berbeda.



Bandar Lampung
01-06 Januari 2008
(Pengarang: S. Sumanjaya)

Saturday, June 2, 2007

Keracunan Kata

Aku melihat kerbau kemarin berjalan di trotoar pinggir sungai. Ia menatap sungai yang mengalir menembus kota membawa sampah, kotoran pabrik, rumah tangga dan manusia. tapi sesekali orang-orang yang sedang memancing di tepi sungai sambil berharap kaya itu juga melihat ada kotoran kata-kata yang mengalir. Kata-kata itu tidak kelihatan kusam, ia bersinar, memancarkan kemegahan, siapapun yang melihatnya pasti menganggapnya sebagai emas, permata dan sebagainya. Tapi semua terkejut ketika suatu hari surat kabar kota terbit pagi di samping kolom artis yang sedang mengundang birahi, memberitakan bahwa ada orang yang sekarat karena keracunan kata-kata. Wajahnya membiru, dari mulutnya keluar busa yang mengeluarkan bau kotoran, dan kalau ditengah malam orang itu akan mengigau dengan keras. Terkadang ia berteriak,

“ aku tidak melakukannya, tidak”

suatu saat juga ia mengigau dengan sedikit berbisik,

“ aku melakukannya, mereka saja yang tidak bisa membuktikannya”

setelah itu ia sering tertawa-tawa sendiri, bangun pagi ketika sang istri menyiapkan matahari pagi dengan nasi goreng buatan katering perumahan di atas piring kristal dengan sendok garpu dari perak. Atau ketika ia mandi pagi dengan spa yang dilengkapi dengan televisi sambil membaca koran pagi.

Tapi koran pagi baginya hanya kebohongan, berita tentang anak yang diperkosa paman, kakek bahkan ayahnya sendiri adalah kebohongan baginya karena ia yakin bukan paman, kakek atau ayah yang memperkosa si anak tapi si anak itu yang telah memperkosa dirinya sendiri, make up tebal, pakaian ketat, lekuk dan buah ditubuhnya untuk dipetik, entah nanti atau sekarang. Maka tertawalah sebelum orang lain yang terbahak-bahak.

Ia kembali tertawa. Ia berpikir kalau ia dahulu lebih cerdas dalam soal perkosa memperkosa ini. Istrinya yang artis itu ia peroleh dari hasilnya memperkosa, tapi bukan ia yang diperkosa sebab ia masih bisa bersabar ketika rembulan menjadi viagra di dalam kamar 133. Tapi mana mungkin artis menyukai atau bahkan meliriknya sebentar saja kalau ia tidak berani memperkosa. Mereka yang tinggal di bantaran kali dan di tepi rel kereta api pernah merasakan bagaimana diperkosa olehnya. Mereka pernah merasakan bagaimana menjadi pelampiasan nafsunya.

Memang untuk urusan seperti itu seharusnya saling menikmati, tapi justru itu yang membedakan antara sang istri, sang pelacur dengan sang korban, kalau sang istri memancarkan bintang di matanya dan bernyanyi pop melayu di telinganya dan setelah itu dibayar dengan uang belanja, uang anak sekolah dan uang-uang lainnya yang ditodongkan kepadaku maka sang pelacur memancarkan petromak di matanya, kausnya harus sering diganti kalau tidak semuanya jadi gelap waktu jabang bayi lahir, ia bernyanyi lagu dangdut yang basah-basah seluruh tubuh itu dan ia dibayar seperti sopir angkot mencari nafkah. Yang tidak menyenangkan menjadi sang korban adalah suplai energi, atau yang sering dibilang PLN sebagai pasokan daya, bagi sang korban apalah daya, hanya ada sedikit boklam 5 watt itupun kalau tidak mati lampu, lagu yang diputarkan mirip dengan aliran musik amerika yang jerit-jerit itu, entah apa namanya underground, hip hop atau apalah. Jadi tidak mungkin kalau semuanya dapat diatasi dengan peningkatan investasi seperti yang dibilang pak tua yang sudah keracunan kata-kata itu.

Akhirnya aku demam dan sepertinya juga sudah keracunan kata-kata, di badanku muncul bintik-bintik biru, ada juga yang merah dan ada yang putih karena setiap hari kusiram semua; Aku muntah darah, trombositku turun ke kadarnya yang paling rendah sekitar 25,5 kalau nggak salah, minum jambu merah sudah kucoba, jambu monyet juga padahal aku paling benci dengan binatang itu, jadi mengingatkan kepada orang itu. Lama kelamaan aku merasa lemah, tekanan darahku menjadi jauh di bawah normal sekitar 75 Rpm.

Aku tahu umurku semakin pendek karena di kepalaku mulai tumbuh tanduk dan aku punya moncong meski tidak putih, padahal aku belum pernah memperkosa, korban tidak pernah, pelacur hanya penyakit bagiku, istri pun masih dalam proposal. Lalu apa salahku? Aku keracunan kata-kata karena telah memperkosa diri sendiri.

BDL, 17 Maret 2004: 14,18

Wednesday, April 11, 2007

Ketidakwarasanku

Berkali-kali kupencet tombol call ponselku untuk menghubungimu namun berkali-kali juga aku menerima jawaban kalau nomor yang aku hubungi ini tidak aktif atau berada di luar service area. Aku tidak mengerti kenapa hal ini kau ulangi lagi, kau mencoba pergi tanpa mengetuk pintuku. Apa mungkin kau memang sedang tidak aktif untuk mengenang cerita kita yang sepenggal lalu, kau juga tidak aktif untuk merasakan sentuhanku yang perlahan itu. Yang aku tahu engkau adalah perempuan yang selalu percaya pada dirinya sendiri dan mencoba untuk selalu aktif dalam melihat apapun. Engkau tidak pernah menghindar ketika perempuan yang lain menghindar di saat bumi kita semakin ditinggalkan.

Yang kuingat engkau hanya menghindar terhadap kegilaan. Di hari itu, yang sampai sekarang selalu kau ingat, engkau lari menghampiriku. Jujur saja baru kali itu ada seorang perempuan yang lari demikian histerisnya kepadaku. Sempat aku bertanya ada apa gerangan sehingga engkau berlari sambil meneriakkan namaku. Belum sempat aku bertanya engkau sudah menjawab kalau ada orang gila yang mengejarmu. Kau ceritakan dengan nafas yang masih memburu bagaimana rupa orang gila itu, bagaimana ia mengikutimu dan bagaimana engkau mencoba menghindar darinya. Jujur pula aku menjadi demikian emosi saat itu. Kenapa harus ada orang gila lagi yang menggilaimu. Tidakkah cukup aku seorang yang menggilaimu. Ternyata orang gila bisa juga merasakan bagaimana caranya kagum kepada seorang perempuan sepertimu.

Aku masih ingat bagaimana ketakutanmu pada saat itu,

“ untung aja tadi, kalau nggak entah gimana kali” katamu

Apa yang kau maksudkan dengan untung itu. Apakah engkau merasa beruntung karena dorongan takdir menuntunku untuk datang menghampirimu saat itu. Kalau untuk itu engkau tidak perlu merasa beruntung karena justru akulah yang merasa beruntung untuk melihat wajahmu saat kau panik, saat kau takut sehingga kau merasa perlu untuk memeluk tanganku, meski kau malu-malu saat itu.

Aku mencoba menenangkanmu saat itu sambil menghiburmu dengan candaan kecil hingga engkau kembali tertawa dan tersenyum. Tawa dan senyum itu menyimpan suatu ungkapan yang aku tahu enggan kau katakan. Ada ungkapan terima kasih yang kau sembunyikan. Tidak masalah buatku, karena dalam hal itu kita punya kesamaan. Sama-sama berpendapat bahwa ungkapan terima kasih akan lebih baik diungkapkan dengan tindakan, dengan kepercayaan. Dan dengan kepercayaan itu pula aku melepas engkau pergi dengan ucapan ringan agar kau hati-hati diperjalanan.

Itu adalah kenanganku yang paling dalam sekaligus juga yang paling mendasari isi di balik tiap pertemuan kita selanjutnya. Aku tahu pertemuan selanjutnya terkadang berjalan biasa saja bahkan terkadang terlalu singkat untuk memberi cerita. Kita yang keras kepala itu hanya bisa mengenang cerita tentang orang gila itu sambil tersenyum senyum. Di saat itu aku baru sadar bahwa orang gila terkadang bisa memberi manfaat yang besar. Dia bisa merekatkan kepercayaan di antara kita. Karena sejak saat itu aku merasa kau memposisikan aku pada tempat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Mungkin karena posisimu sebagai wanitalah sehingga engkau enggan mengungkapkan sebagai apa aku di dirimu. Hanya ada penggalan-penggalan kejadian yang ingin saja aku simpulkan dengan percaya dirinya namun aku belum berani. Aku masih terserak saat itu. Penggalan-penggalan itu ingin saja aku kumpulkan kemudian kurangkaikan lalu ku bingkai menjadi hiasan paling indah. Namun aku masih perlu waktu untuk melakukannya.

Aku memang tak ingin terlalu cepat menyimpulkan apa yang kau simpulkan tentangku. Meski aku bisa saja merasa lebih ketika kau beritahu aku kepada siapa saja kau berikan gembiramu dan kapan saja saja transit di kota ini. Aku juga belum berani menyimpulkan ketika kau datang di penggal kenangan yang tidak kuduga sebelumnya sambil membawa bingkisan buatku. Kau membawa harapan yang makin berpijar terang. Semakin terang lagi ketika kau menjadi busur panah yang membantuku menggapai suatu titik di langit. Semakin besar rasa itu.

Karenanyalah aku mulai gila. Mulai jadi penghuni jalan hanya karena harus menunggumu yang datang terlambat. Aku juga mulai jadi pengawal yang sekedar ingin membuatmu nyaman. Aku juga kau angkat sebagai pembimbingmu yang mengembara ke sebrang hanya untuk mencari pelengkap masa depanmu. Sudah demikian namun tetap saja belum berani aku lebih jauh menerobos selaput yang menjaga jarak rasa kita saat itu. Aku hanya menunggu diriku untuk sampai pada satu titik yang bisa kuteruskan untuk menulis kata sayangku padamu.

Semakin lama aku semakin punya apa yang kuinginkan untukmu dan karenanya aku merasa semakin perlu untuk mendekatkan perahuku ke dermaga yang dipenuhi dengan cahayamu. Namun entah mengapa di saat itu aku justru merasa kau semakin ingin jauh dariku. Kau perlahan mencoba memudar dari minggu-minggu yang berlalu seperti kereta malam. Yang kau sisakan hanya gerbong-gerbong kata yang singkat. Gerbong-gerbong kata yang hadir di kala malam membukakan pintunya untuk ku hampiri. Gerbong-gerbong kata yang makin jarang kita tukarkan, yang kita berikan senyum dan yang menjadi pengantar mimpi kita saat pintu malam akan kita tutup.

Deretan kata yang terakhir kau bingkiskan ada di minggu yang lalu. Di saat itu kau memintaku untuk menunda pertemuan denganmu. Sambil meminta maaf dan berharap agar aku mengerti kau tunda saat yang ingin ku potret dengan indah. Tapi biarlah, bukankah selalu ada pengertian yang mengikatkan kepercayaan kita. Aku hanya berharap agar penudaan itu bukan berarti kau hanya ingin mencari alasan bahwa apa yang terjadi selama ini adalah kesalahan dan tidak mestinya kita seperti ini. Karenanya aku masih menjaga lilin harapan yang kita nyalakan bersama agar tidak redup terlebih lagi mati demikian cepatnya.

Namun di saat ini aku teramat resah. Aku tahu siapa dirimu tapi kali ini engkau demikian lain. Tak biasanya aku seperti ini. Tidak meninggalkan kata-kata yang berderet. Tidak bisa kuhampiri di pintu malam. Bukan hanya malam ku coba mengetuknya namun pagi, siang dan sore pula tapi aku semakin tidak tahu dimana pintu malammu. Meski aku adalah karang namun aku rapuh jadinya. Karenanya tunjukkan padamu dimana engkau meletakkan pintumu sehingga aku bisa mengetuknya lagi. Tolonglah aku yang makin tidak waras ini.



BDL,26/01/2005
03.00 wib

Menunggumu Lebih Lama Dari Satu jam

Hampir satu jam aku menunggu disini tapi belum juga kau kunjung datang. Entah mengapa aku begitu betah menungguimu padahal aku dikenal sebagai orang yang paling benci menunggu. Aku dilahirkan di dalam keluarga yang sangat disiplin, ibuku adalah anak seorang mantan tentara karena itulah maka watak disiplin seperti tepat waktu, tepat tujuan dan sebagainya itu diturunkan juga kepadaku melalui ajaran-ajarannya hingga aku besar. Akhirnya aku dikenal sebagai orang yang selalu tepat waktu, kalau aku berjanji akan datang jam 8 maka tepat jam delapan itu aku pasti sudah hadir. Kebiasaan-kebiasaan itu yang terkadang membuatku sebal kalau ada orang yang berjanji pada waktu tertentu namun dia terlambat datang.

Biasanya aku memberi waktu tolerir selama 15 menit untuk menunggu orang itu dan kalau waktu itu lewat maka aku akan pergi meninggalkannya apapun resikonya. Karena sikapku itu aku pernah tidak lagi diikutsertakan di dalam proyeknya temanku dengan alasan aku bukan tipe orang yang bisa bersabar. Aku semakin bingung mereka bilang begitu. Suatu kali juga aku pernah bertengkar hebat dengan pacarku yang dahulu sampai kami harus berpisah hanya karena aku diangap orang yang tidak perhatian karena rela meninggalkannya sendiri di tempat yang kami janjikan. Aku juga bingung dengan alasannya itu.

Tapi kali ini entah kenapa aku tidak gelisah karena harus sendiri menunggumu datang. Di tepi jalan ini aku hanya bisa melihat mobil-mobil lalu lalang dihadapan, melihat orang hilir mudik, ada yang sendiri berjalan tergesa-gesa, mungkin ia juga punya janji dengan seseorang yang disayanginya sama seperti aku. Ada juga sepasang pria dan wanita yang kupastikan sebagai kekasih sedang berjalan sambil bercanda, tertawa mesra. Dongkol hati ini melihat mereka itu, aku mulai tak sabar menantikanmu datang.

Pemandangan-pemandangan itu membuatku tersenyum-senyum membayangkanmu yang nanti akan datang tergesa-gesa sambil berkata,

“ Maaf ya sayang, aku harus mandi dan dandan dulu tadi”

Wanita selalu begitu, dandan. Entah kenapa, apa mereka kurang percaya diri dengan rupa mereka sendiri sehingga mereka harus memolesnya supaya dikatakan cantik. Padahal aku tahu bagaimana rupanya kalau sedang tidak memakai dandanannya itu, dia sudah dikarunia raut yang menawan buatku. Setelah itu dia pasti akan berkata lagi,

“ Kamu lama ya menunggunya, maaf ya”

Kata maaf lagi, sepertinya senjata yang paling digjaya dari wanita adalah kata itu, apalagi kalau ditambah dengan kata “sayang” atau paling tidak ada kata “kamu”, kalau sudah begitu mana tega aku kalau tidak tersenyum sambil berkata,

“ Ah nggak kok, aku juga baru datang, belum lima belas menit”

Berbohong lagi aku, lama kelamaan dosaku yang tercipta dari berbohong ini mungkin sudah menjadi bukit. Tapi aku jelas punya alasan untuk itu, dan mungkin semua orang juga rela berdosa-dosa dalam hal ini, aku jadi bingung dibuatnya.

Kata orang wanita itu peka, mereka bisa merasakan emosi yang mungkin muncul dari seseorang hanya dengan melihat matanya. Maka itu temanku berkata agar mereka tidak kecewa kitalah yang harus mengalah. Tapi aku jadi bingung lagi. Apa percintaan itu seperti perang harus ada yang kalah dan menang. Kalau begitu apa yang didapat dari pertempuran yang mungkin melelahkan dan menjatuhkan korban itu. Penguasaan. Aku tidak yakin dengan yang namanya memiliki atau dimiliki itu. Karena ternyata pertempuran belum berakhir ketika kita merasa memiliki, masih ada yang namanya penghianatan. Ah, semakin jauh pikiranku menjelajah sambil menunggumu.

Selama lima menit aku tersenyum-senyum sendiri di tepi jalan ini karena menerka apa yang akan terjadi nanti, sampai aku tak sadar kalau orang-orang memperhatikan. Jadi malu aku, pasti mereka mengira aku orang yang aneh, nggak waras atau gila. Kalau sudah begini mungkin benar kalau cinta itu memang gila.

“ ah, kenapa pula aku jadi sok romantis seperti ini, pengalaman yang dulu hampir menyakitkanku sampai aku enggan bermain-main lagi dengan cinta yang gombal itu. Ah, sudahlah jangan di dramatisir begini”, pikirku dalam lamunanku.

Hei, apa itu. Aku melihat ada kobaran api dan ada sepeda motor dan gerobak bakpao yang jatuh terguling lalu minyak dari gerobak bakpao itu tumpah dan api dari penggorenangannya menyulut api. Sekitar setengah meter api itu membubung, untung saja seseorang menarik sepeda motor itu ke tepi jalan, kalau tidak bisa saja api itu menyambar bensin dari motor itu dan selanjutnya mungkin lebih parah. Aku mendatanginya mereka ternyata sedang bertengkar tentang siapa yang salah, siapa yang keliru waktu berbelok di tikungan, siapa yang tidak menginjak rem waktu hampir bertabrakan dan sebagainyalah. Mereka berdebat kalau mereka sedang tergesa, pedagang bakpao harus mengantar uang sehingga mereka bisa makan besok hari, sementara pengendara motor harus mengantar istrinya ke dokter.

Kalau sudah begitu aku jadi ingat kamu. Entah disisi yang mana kita mungkin akan berdebat tentang rasa sayang kita itu. Kita pernah bertengkar tentang siapa yang salah, siapa yang lebih salah dan siapa yang salah karena menyalahkan tapi kita belum pernah bertengkar tentang untuk apa kita saling bertengkar, mengapa kita tetap bersama meski terkadang bertengkar. Aku tahu kita tak mesti mengatakan jawabnya, ada tangan-tangan halus yang akan secepatnya menepikan sayang kita disaat ada api yang membubung di dalam hati kita.

Aku tersenyum lagi sambil menunggumu. Waktu pun semakin bertambah sekarang sudah satu jam 30 menit. Walaupun sebenarnya aku masih betah menunggumu tapi karena orang-orang semakin keheranan memandangiku sebaiknya aku pindah ke tempat lain untuk menunggu kau datang. Bila Yang Kuasa masih mengijinkan, yakinlah aku akan tetap menunggumu sampai kau datang tergesa-gesa kepadaku. Ah Sophia, ternyata menunggumu lebih lama dari satu jam.


Bandar Lampung, 13062004

RUHKU BISA BERJALAN

Terkadang ruhku bisa berjalan-jalan tanpa memakai sandal dan baju tebal yang sering menemaniku berpergian di malam hari. Saat ini saja ruhku sudah menembus tembok kamar lalu pintu rumah kemudian ia berjalan melewati jalan-jalan protokol, melewati pasar lalu sampai di depan rumah yang mengerikan bagiku.

Rumah itu tersusun dari tiga puluh tiga tumpuk batuan kubus berwarna hitam yang tingginya sekitar tiga belas meter. Rumah itu tidak berpagar, tapi ia dikelilingi oleh pasi-pasir halus yang akan menghisapmu ke dasar perutnya jika kita melangkah di atasnya. Hanya ada jalan setapak untuk melewati pasir itu, begitu kecil untuk melangkah hingga kaki kita harus diangkat perlahan dan kemudian kaki-kaki itu akan berjejer searah ke depan. Aku tidak berani berpikir macam-macam, konsentrasi untuk melihat jalan tipis di malam seperti ini amatlah vital.

Hampir saja aku kehilangan konsentrasi waktu lamat-lamat ada suara lembut yang kukenal dahulu mencoba merayuku kembali, tapi aku berhasil mengusirnya,

“ hus, hus, pergi sana, cari saja makanan di tempat lain” kataku sedikit menghardik.

Memang aku mengenal siapa pemilik suara itu, ia memang bagian dari masa silam yang sempat menempelkan jemarinya dihati ini sebelum ia meremas dan memecahkannya. Untung saja aku masih punya perban dan sedikit obat merah yang memang pedih untuk menyembuhkan luka yang tipis namun dalam ini. Setelah sembuh luka itu baru aku sadar dari hipnotis bahwa ia hanya ingin menggerogoti aku perlahan dari dalam, ya, dari hatiku lalu kemudian ia akan menghisap usus besarku, usus kecilku, lambungku, paru-paru, otakku, baru kemudian ia menikmati tebalnya dagingku dan hanya tulangku yang pasti ia sisakan untuk cacing dan belatung.

Tapi sudahlah, aku harus berkonsentrasi lagi agar aku bisa melewati jalan setapak ini. kulangkahkan lagi kaki kananku ke depan lalu kemudian kaki kiriku, tapi aku merasa kalau aku menginjak sesuatu yang rapuh, “krak” sesuatu yang kuinjak tanpa sengaja itu patah menjadi beberapa bagian. Aku penasaran, benda apa itu yang ada di tengah jalan seperti ini dan di tempat yang mengerikan seperti ini. Aku mencoba memincingkan mataku yang memang sudah minus ini.

Aku tersentak “ tidak mungkin, tidak mungkin ini, aku tidak percaya”.

Jantungku berdegup kencang, nafasku memburu dan mataku melotot sebisanya. Aku masih terdiam memandang sesuatu pada pangkal benda rapuh yang tadi aku injak. Ada wajah di sana, wajah itu sudah berkerut, garis-garis keriput menonjol di sana, tulang-tulang di wajahnya lebih menonjol ketimbang senyum yang coba ia kembangkan menyapaku.

“ apa kabarmu” tanyanya gemetar

aku masih terdiam, jantungku masih berdegup kencang, nafasku masih memburu dan mataku masih melotot sebisanya.

“ kau sudah berubah, banyak hal yang tidak kulihat dari kau yang dulu dan banyak hal yang aku yakin masih kau miliki’ katanya sambil menatap lengan kananku.

Aku mencoba belajar mengeja lagi, membiarkan darah di tubuhku mengalir melewati bilik dan serambi dengan tertib, mengatur nafas supaya bisa antri dengan sabar dan menegur mataku supaya tidak berlebihan dalam bersikap.

“aku baik-baik saja, kau juga begitu banyak berubah” jawabku singkat.

Sungguh bodoh, satu dekade sudah tidak bertemu dan kini yang keluar dari mulutku hanya ucapan seperti itu, padahal satu dekade yang lalu kau begitu ingin memuntahkan bait demi bait hasratmu kepadanya. Aku masih ingat saat itu aku mendadak sakit, padahal aku termasuk anak yang sehat, jarang sakit, kecuali oleh penyakit yang disebabkan oleh angin, seperti masuk angin dan angin duduk.

Saat itu ada angin lain yang menerobos tubuhku dan masuk ke dalam hatiku, aku bingung saat itu sakit macam apa ini, membuat aku limbung, pandanganku menjadi tunggal, sering mengigau dan sering lemas. Tenyata aku tahu kini aku masuk angin saat sedang bertemu dan mencoba bicara berdua dengannya, aku sakit saat angin lembut dari bibirnya menerpa wajahku dan menciptakan rindu di sana.

Kenapa harus kuingat paruh waktu yang itu, aku tak mau penyakit itu kembali lagi menjangkiti ketika ia sudah hampir musnah dari dataran inginku, ketika namanya hampir luluh terbawa riak yang melewati kerikil dan kuarsa disepanjang aliran hidupku. Aku harus yakin ini hanya godaan sama seperti ketika iblis menggoda Hawa dan Adam untuk mengenal dusta dan dosa. Tapi sungguh aku tak jua kuasa untuk meraih sedikit ingin tahuku tentang itu, aku ingin meraih buah yang belum sempat aku lihat sebelumnya dari dia, aku hanya ingin melihat adakah gores namaku di kulit cintanya, hanya itu. Lalu dengan gentar aku memohon agar ia memperlihatkannya kepadaku.

Tapi ia bisu dan matanya pun tak berkata, hanya ada dingin yang mengurung tubuhnya. Kutawarkan ia selimut yang dahulu kusimpan dari balik kenanganku, masih saja terajut dengan rapi dan masih ada inisial namamu di bagian pinggirnya. Nama itu tidak pernah tersentuh oleh yang lain meskipun aku pernah meminjamkannya kepada mereka yang melintas dihadapan, tapi selalu aku ragu karena melihat namamu ketika mereka memakai selimut itu. Karena itu kemudian harapku menunggu agar selimut ini melekat kepada pemilik nama ini.

Kau semakin membeku, wajahmu membiru, bunga es mulai menutup tubuhmu dan kaku mulai menjadikanmu tak sanggup untuk kupeluk. Bukan karena aku tak peduli, tapi karena kau juga menciptakan badai dari dinginnya hatimu dan badai itu menyerangku, menghempaskan tubuhku saat hendak melangkah padamu. Aku tak pernah menduga itu sebelumnya. Maka, gemeretak gigi menahan dingin bercampur dengan panas luka hati aku meninggalkanmu tanpa harus menoleh kepada batu yang kau pahat dengan angkuhmu.

Tak seharusnya kau meminta masa yang datang sebagai hadiah yang harus kuberikan di hari itu. Aku belum punya lembaran dan kepingan untuk memberikan kau masa datang yang harus kubungkuskan di dalam parsel dan disertai dengan sepuluh atau dua puluh bingkisan lain yang katanya merupakan bukti inginku padamu. Kau tetap keras memintanya padaku. Baiklah, akan kuberikan kau candi di atas remuknya permukaan sayangku yang tak pernah sempurna hingga ayam jantan membangunkan dari lelap dan yang tersisa dari harapku hanyalah menjadikanmu sebagai arca dari candi yang akan kubiarkan terkubur dalam-dalam.

Ku dapatkan kesadaran setelah beberapa kali aku mencoba menggapainya. Kesadaran yang datang bersama dengan pijar cahaya yang samar kulihat di ujung setapak yang masih kulalui ini. Pijar itu sedikit demi sedikit berkelap kelip seperti saat kulihat beberapa bintang yang masih mencoba memberikan arti kepada sesamaku tentang berbagai arti. Semakin dekat ia berpendar-pendar seperti cahaya suar yang sendiri dan dengan sederhananya memberi inspirasi kepada sebuah awal dan akhir yang kembali bertemu dan menjalin waktu.

Aku hampir lelah, ternyata setapak ini masih panjang dan aku masih mengejar cahaya yang ada didepan. Ku tak kuasa menerka berapa lama lagi mencapai ujung dan merasakan lagi hangat atau panasnya terik mentari sehabis fajar. Saat ini ruhku masih saja berjalan melewati rumah demi rumah yang menyeramkan bagiku, rumah yang semakin jauh meninggalkan ragaku yang masih telanjang itu.


BDL, Januari-Juni 2004